Foto block migas Natuna D-Alpha ilustrasi di bawah foto Ketua Ikatan Pelajar Mahasiswa Kabupaten Natuna-Alumni Yogyakarta (IPMKN AYO) dan Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Natuna.
Natuna, AriraNews.com – Kembali dibukanya pengembangan Wilayah Kerja (WK) Natuna D-Alpha menyemai asa baru bagi Natuna. Di balik potensi gas raksasa yang tersimpan di kawasan tersebut, muncul harapan agar geliat industri migas tidak hanya menjadi bagian dari agenda energi nasional, tetapi juga membuka jalan bagi kemajuan ekonomi daerah dan kesejahteraan masyarakat.
Harapan itu kini disuarakan generasi muda Natuna. Ikatan Pelajar Mahasiswa Kabupaten Natuna-Alumni Yogyakarta (IPMKN AYO) dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Natuna sama-sama mendorong agar momentum kembali bergeraknya D-Alpha dikawal sejak awal, sehingga masyarakat lokal memiliki ruang untuk mengambil bagian melalui lapangan kerja, shorebase atau pangkalan logistik, UMKM, dunia usaha, hingga peluang pembangunan daerah.
Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), PT Nations Petroleum ditetapkan sebagai pemenang lelang penawaran langsung WK Natuna D-Alpha. Penetapan tersebut tertuang dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 108.K/MG.4/DJM/2026 yang ditetapkan pada 17 September 2026.
PT Nations Petroleum merupakan perusahaan yang berada di bawah Arsari Group. Pada tahap awal pengelolaan, perusahaan tersebut membawa komitmen pasti sekitar 103,3 juta dolar AS untuk tiga tahun pertama, yang mencakup antara lain kegiatan eksplorasi, studi geologi dan geofisika, survei seismik 3D, studi pengelolaan karbon dioksida (CO2), serta pengeboran sumur appraisal dan eksplorasi.
WK Natuna D-Alpha memiliki potensi sumber daya gas yang besar. Data yang dikutip dari Kementerian ESDM menyebutkan potensi gas di kawasan tersebut mencapai sekitar 222 trillion cubic feet (TCF), dengan perkiraan cadangan gas yang dapat dieksploitasi sekitar 46 TCF.
Besarnya potensi itu pula yang membuat suara masyarakat Natuna kembali menguat. Bagi mereka, angka ratusan TCF bukan sekadar angka dalam dokumen investasi, melainkan harapan agar kekayaan alam di wilayah Natuna dapat ikut menggerakkan perekonomian masyarakat.
Memperjuangkan Ruang Ekonomi bagi Natuna
Ketua IPMKN AYO, Ryannaldo Noorhidayat, mengatakan pengembangan D-Alpha perlu dilihat dari perspektif yang lebih luas. Menurutnya, keberhasilan proyek migas bukan hanya diukur dari kemampuan menghasilkan energi, tetapi juga dari sejauh mana aktivitas tersebut menciptakan dampak ekonomi bagi daerah.
“Seperti yang kami ketahui dari beberapa literatur, Blok D-Alpha merupakan salah satu blok raksasa migas yang dimiliki Indonesia. Jika ini kelak beroperasi, tentu kami berharap dampak ekonominya lebih besar dan lebih terasa ke daerah kita selaku ‘pemilik’,” ujar Ryannaldo, Rabu (23/9/2026), melalui pesan WhatsApp.
Salah satu peluang yang disorot adalah keberadaan shorebase atau pangkalan logistik di Natuna.
Menurut Ryannaldo, jika aktivitas pendukung operasional migas ditempatkan di Natuna, perputaran ekonomi tidak hanya terjadi di sekitar kegiatan hulu, tetapi dapat merembet ke berbagai sektor masyarakat.
“Jika Blok D-Alpha beroperasi dan shorebase atau pangkalan logistik berada di Natuna, maka akan berdampak banyak bagi daerah dalam mendorong pengembangan ekonomi lokal. Akan ada efek domino yang bergerak dalam pertumbuhan ekonomi di daerah kita,” katanya.
Efek domino tersebut, kata dia, dapat menciptakan peluang bagi sektor jasa, perdagangan, transportasi, akomodasi, hingga UMKM.
Karena itu, masyarakat dan dunia usaha Natuna dinilai perlu mulai mempersiapkan diri. Peluang ekonomi tidak cukup hanya ditunggu, tetapi perlu diperjuangkan melalui kesiapan sumber daya manusia, peningkatan kapasitas usaha, dan jejaring dengan berbagai pemangku kepentingan.
Tenaga Kerja Lokal Menjadi Bagian dari Perjuangan
Perjuangan menangkap peluang D-Alpha juga menyentuh persoalan sumber daya manusia.
Ryannaldo yang merupakan alumni Teknik Perminyakan menilai putra-putri Natuna memiliki berbagai latar belakang pendidikan yang dapat mendukung aktivitas industri migas, baik secara langsung maupun melalui sektor pendukung.
“Menurut saya, kita sudah siap untuk mengambil peluang dan lapangan pekerjaan jika blok tersebut mulai running. SDM Natuna cukup mumpuni untuk terlibat, baik secara langsung maupun tidak langsung,” ujarnya.
Ia menilai kesempatan tersebut tidak terbatas pada pekerjaan teknis sektor hulu migas. Berbagai disiplin ilmu dapat mengambil peran sesuai kebutuhan industri.
“Banyak disiplin ilmu yang diambil oleh putra-putri Natuna yang relate untuk bisa berkontribusi di sana. Dan secara tidak langsung nanti mereka yang akan support hal-hal lainnya,” katanya.
Harapan serupa disampaikan Ketua Umum HMI Cabang Natuna, Fergiawan.
Ia meminta perusahaan yang nantinya terlibat dalam pengembangan WK Natuna D-Alpha membuka ruang bagi tenaga kerja lokal sesuai kompetensi yang dibutuhkan.
“Daerah kita kan sebagai daerah penghasil. Sudah seharusnya perusahaan membuka peluang tenaga kerja untuk masyarakat Natuna agar bisa bekerja sesuai dengan SDM dan keahlian. Jangan sampai masyarakat yang memiliki SDM di bidang itu menjadi penonton di daerah sendiri,” katanya.
Bagi HMI, keterlibatan tenaga kerja lokal merupakan salah satu bentuk manfaat yang dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat dari aktivitas industri migas.
Basecamp dan Shorebase, Titik Ekonomi yang Diperjuangkan
Fergiawan juga mendorong agar fasilitas pendukung kegiatan D-Alpha, termasuk basecamp, dapat dibangun di Natuna apabila sesuai dengan kebutuhan dan pertimbangan operasional.
Menurutnya, keberadaan fasilitas tersebut dapat menciptakan aktivitas ekonomi baru sekaligus membuka peluang pekerjaan bagi masyarakat.
“Ini merupakan komitmen bahwa Natuna bukan anak tiri. Dengan dibuatkan basecamp di Natuna, tentunya ada pembangunan dan penyerapan tenaga kerja. Selanjutnya, ekonomi di Natuna pun pasti terbantu,” ujarnya.
Sementara IPMKN AYO menilai keberadaan shorebase dapat menjadi salah satu pintu masuk bagi pelaku usaha lokal untuk terhubung dengan rantai pasok industri.
Dari kebutuhan transportasi, logistik, makanan, akomodasi, jasa hingga berbagai kebutuhan pendukung lainnya, aktivitas industri berskala besar berpotensi menciptakan permintaan ekonomi baru.
Namun, peluang tersebut tetap membutuhkan kesiapan pelaku usaha agar mampu memenuhi standar dan kebutuhan industri.
Asa yang Telah Disemai Sejak Lama
Bagi Ryannaldo, harapan terhadap D-Alpha bukan baru muncul setelah adanya penetapan pengelola terbaru.
Ia mengungkapkan, mahasiswa asal Natuna yang menempuh pendidikan di Yogyakarta sudah membahas potensi blok tersebut sejak belasan tahun lalu.
“Saat kami kuliah di Jogja dulu, mahasiswa Natuna di Jogja kerap mengadakan berbagai diskusi tentang daerah, salah satunya adalah mengenai Blok D-Alpha ini. Itu belasan tahun lalu,” ungkapnya.
Kini, ketika pengembangan blok tersebut kembali bergerak, harapan lama itu kembali mendapatkan ruang.
“Kami menyambut gembira ketika blok ini akan kembali dikerjakan. Rekan-rekan kami yang kuliah di Jogja dan di tempat lain juga banyak yang mengambil jurusan yang relevan untuk bekerja di sektor tersebut,” katanya.
Bagi generasi muda Natuna, momentum tersebut dinilai penting untuk membangun kesiapan daerah sebelum aktivitas industri berkembang lebih jauh.
UMKM dan Dunia Usaha Tak Boleh Kehilangan Momentum
Perjuangan menangkap manfaat D-Alpha juga tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan perusahaan.
IPMKN AYO mendorong pelaku UMKM dan dunia usaha Natuna mulai memperluas jejaring serta mencari peluang yang dapat terhubung dengan aktivitas industri migas.
“Cari peluang dan perbanyak jejaring. Kita ada Kadin, ada HIPMI dan beberapa pemangku kepentingan terkait yang insya Allah bisa memfasilitasi itu,” ujar Ryannaldo.
Menurutnya, keterlibatan pelaku usaha lokal penting agar dampak ekonomi D-Alpha dapat menyebar lebih luas ke masyarakat.
Dengan begitu, aktivitas migas tidak hanya menciptakan kegiatan di sektor hulu, tetapi juga menggerakkan perdagangan dan jasa di daerah.
Pemerintah Daerah Diminta Berdiri di Barisan Depan
Di tengah harapan tersebut, pemerintah daerah juga didorong mengambil peran strategis.
IPMKN AYO meminta Pemerintah Kabupaten Natuna mengoptimalkan ruang kebijakan yang dimiliki, termasuk memperkuat pembahasan mengenai participating interest (PI) 10 persen, mendorong serapan tenaga kerja lokal, serta membuka peluang lebih besar bagi dunia usaha daerah.
“Pemda perlu mengoptimalkan regulasi dan juga peran dalam PI 10 persen, serta ikut mendorong memperkuat serapan tenaga lokal,” tegas Ryannaldo.
Sementara Fergiawan meminta Pemkab Natuna dan DPRD Natuna membangun komunikasi dengan pemerintah pusat maupun Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau.
Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan kepentingan daerah tetap menjadi bagian dari pembahasan pengembangan D-Alpha.
“Baik pihak eksekutif maupun legislatif, mari kita bergandeng tangan untuk memajukan daerah kita. Kita perjuangkan apa yang menjadi hak daerah. Jangan sampai kita hanya mendapatkan ampas saja,” tegasnya.
Ia memahami adanya pembagian kewenangan pemerintahan dalam pengelolaan sumber daya alam. Namun, menurutnya, kondisi tersebut tidak seharusnya menghentikan perjuangan pemerintah dan masyarakat Natuna untuk mendapatkan manfaat dari aktivitas ekonomi yang berlangsung di wilayah tersebut.
“Untuk itu, kita meminta kepada pemerintah pusat maupun pemerintah provinsi, dengan beroperasinya Blok Migas Natuna D-Alpha, agar lebih memperhatikan Natuna sebagai daerah penghasil guna menyejahterakan rakyat, khususnya masyarakat Natuna,” pungkasnya.
Dari Potensi Migas Menjadi Asa Ekonomi
Kembali bergeraknya WK Natuna D-Alpha kini membuka babak baru bagi Natuna.
Bagi pemerintah pusat, blok tersebut merupakan bagian dari potensi energi nasional. Bagi perusahaan, D-Alpha adalah wilayah kerja dengan potensi sumber daya yang besar. Namun bagi masyarakat Natuna, momentum tersebut juga membawa pertanyaan sekaligus harapan: sejauh mana aktivitas tersebut mampu membuka kesempatan ekonomi bagi daerah?
Jawabannya akan sangat bergantung pada kesiapan semua pihak.
Shorebase, basecamp, tenaga kerja lokal, UMKM, dunia usaha, serta peran pemerintah daerah menjadi sejumlah ruang yang kini diperjuangkan agar geliat D-Alpha dapat ikut menumbuhkan ekonomi Natuna.
Sebab, kekayaan alam tidak hanya berbicara mengenai seberapa besar sumber daya yang tersimpan, tetapi juga mengenai bagaimana peluang yang lahir dari pengelolaannya dapat menciptakan manfaat yang lebih luas.
Di titik inilah asa D-Alpha kembali disemai.
Natuna tidak sekadar menunggu migas mengalir, tetapi sedang berusaha memastikan bahwa ketika industri itu bergerak, ekonomi daerah, putra-putri lokal, dan masyarakatnya juga ikut bergerak maju.
(Dod)
AriraNews.com, ANAMBAS — Wakil Bupati Kepulauan Anambas, Raja Bayu Febri Gunadian, S.E., didampingi Ketua Gabungan…
AriraNews.com, ANAMBAS — Wakil Bupati Kepulauan Anambas, Raja Bayu Febri Gunadian, S.E., didampingi Sekretaris Daerah…
AriraNews.com, JAKARTA - PT Bank CIMB Niaga Tbk (CIMB Niaga) meraih dua penghargaan internasional dalam…
Natuna, AriraNews.com – Bupati Natuna Cen Sui Lan bersama Wakil Bupati Jarmin Sidik dan jajaran…
AriraNews.com, Batam — Pembangunan Sekolah Terintegrasi Merah Putih di Rempang, Batam, resmi dimulai ditandai dengan…
AriraNews.com, Batam - Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam, Amsakar Achmad, mendorong pembangunan instalasi teknologi Sea…