Headline

Kenangan dan Rindu yang Tak Pernah Usai

Oleh: Mita Harianti, Mahasiswi Politeknik Negeri Jakarta

Rintik gerimis yang bernada di atas genteng terdengan syahdu. Dingin yang ia ciptakan mampu menyatu dengan panasnya atmosfer kota. Sesekali, gemuruh terdengar di angkasa dengan suaranya yang pelan-pelan masuk ke telinga. Pukul 14.00 WIB, siang menuju sore yang kali ini kuhabiskan salah satunya dengan membuka media sosial sejenak.

Baru saja status WhatsApp temanku yang menang dalam lomba pencak silat kubuka. Aku ikut bangga karena memiliki teman pesilat yang hebat sepertinya. Namun, melihat itu semua ada perasaan yang muncul tiba-tiba di sanubariku. Kuringkas saja semua rasa itu menjadi satu. Rindu. Sebagai mantan pesilat yang mimpiku kandas di tengah jalan.

Aku mulai mengenal silat ketika duduk di bangku SD. Kemudian saat diriku beranjak ke jenjang SMP, barulah aku mulai bergabung dengan salah satu sanggar silat yang ada di dekat rumahku, Ranah Pantai Cermin, Solok Selatan. Jaraknya sekitar 300 meter. Dalam benakku, masih jelas bagaimana sulitnya mencari ayam hitam sebagai salah satu syarat untuk bisa diterima di sana. 

Kegigihanku untuk belajar selama setahun lebih cukup membuat guru silatku salut. Ia sering memuji kedisiplinanku ketika datang latihan. Namun, ayah mana yang tidak risau anak gadisnya pulang pukul sebelas malam. Karena ayah memperhatikan kegiatanku yang pergi latihan pukul 19.00 WIB dan baru pulang pukul 23.00 WIB. Meski tujuanku jelas, tapi perguruan yang didominasi oleh kaum laki-laki tetap membuat ayah khawatir. 

Kekhawatiran itu berubah menjadi rasa marah. Pernah sekali, ketika aku pulang latihan hendak masuk rumah ayah menendang pintu cukup keras. “Sudah pukul berapa ini, dan Kau baru pulang!” geram ayah. Tangannya mengepal dan matanya terlihat merah karena menahan emosi. Aku hanya diam tak melawan, lalu langsung masuk menuju kamarku. Setelah kejadian itu, aku berhenti seminggu untuk tidak latihan.

Pada minggu berikutnya, aku latihan lagi karena beberapa teman seperguruanku sering mengatakan bahwa guru mencariku. Dengan tekad yang kuat, aku izin kembali kepada ayah untuk ikut latihan. Ayah mengizinkan, tetapi aku harus pulang lebih awal. Waktu itu, aku sering pulang pukul sepuluh malam karena akan ada lomba. Benar saja, apa yang aku lakukan itu membangunkan amarah ayah. 

“Tidak usah ikut-ikut silat, tidak ada gunanya, Kau perempuan, sekolah saja yang benar. Jika Kau ikut lagi, jangan pernah pulang ke rumah ini!” ucap ayah dengan suara yang mampu membuat setiap orang yang mendengarnya mati kutu ketakutan. Aku tahu persis marahnya ayah. Tidak ada kata main-main atau sekadar ancaman biasa dalam setiap kata yang diucapkan ayah ketika marah. 

Sebagai seorang anak yang dituntut untuk patuh kepada orang tua demi kebaikan, aku menurut. Karena waktu itu aku berpikir ucapan ayah itu ada benarnya meski disampaikan dalam keadaan marah. Impianku untuk menjadi seorang pesilat gugur beriringan dengan air mataku saat itu. Aku mengundurkan diri dari perguruan itu, namun dilarang oleh guruku. Guru mengatakan. “Sekali Kau menjadi bagian dari kami, maka selamanya akan tetap bagian dari kami. Tidak masalah, jika untuk sementara waktu tidak latihan dulu. Kemarilah kapan pun Kau mau,” ucap guru sambil menatapku dengan tatapan penuh harap pada malam terakhir aku latihan.

Aku berhenti aktif latihan silat ketika hendak naik kelas tiga SMP. Meski awalnya terpaksa, lama-lama terbiasa dengan aktivitas baru seperti menulis, main badminton atau lain-lain. Aku tidak muncul lagi ke lapangan silat karena memang sudah saatnya untuk melanjutkan pendidikan ke SMA. Namun, karena rindu tadi juga, aku pernah diam-diam ke sana hanya sekadar ingin bertemu dengan guru dan menanyakan kabar. Sementara untuk teman-teman seperguruan semakin bertambah, banyak wajah baru yang tidak aku kenali. 

Kini aku sudah menjadi seorang mahasiswa semester 4 di Politeknik Negeri Jakarta, Depok. Kenangan selama menjadi bagian anggota pencak silat masih sering berkeliaran di benakku ketika melihat sesuatu yang berkaitan dengan silat. Biarlah kisah itu menjadi kenangan dan rindu yang tak pernah usai. Mengingat perkataan ayah yang berkata bahwa karena aku perempuan jadi aku tidak perlu ikut silat, itu ternyata tidak tepat. 

Pencak silat adalah seni bela diri yang menjadi budaya Indonesia dan berasal dari Sumatera Barat. Hukum bela diri bagi wanita adalah mubah. Asalkan niat lurus dan bukan hanya sekadar untuk senang-senang saja. Bela diri salah satu bentuk sikap waspada terhadap musuh yang bisa datang kapan saja, apalagi kepada wanita di zaman sekarang.

Jadi, siapa saja boleh belajar bela diri salah satunya pencak silat. Namun, tetap ada ada batasan dalam hal itu. Sebagai seorang ayah, tentu ingin yang terbaik untuk anaknya dan terlindungi dari segala bahaya. Barangkali itu yang membuat ayahku melarangku untuk latihan silat dulunya. Karena aku perempuan dan masih SMP, serta tidak adanya penjagaan membuat ayah khawatir. Bukan silatnya yang beliau katakan bahaya, tapi melihat prosesku untuk bisa ikut latihan itu yang membautnya cemas.

Pada akhirnya, aku menyadari bahwa yang menurut aku baik belum tentu baik untukku. Sesuatu yang menjadi takdirku tidak akan melewatiku. Budaya yang sempat terhenti di diriku, biarlah menjadi masa lalu yang memberikan pelajaran. Berikutnya kepada anak cucu, akan kulestarikan kembali budaya itu.(mh)
Redaksi

Recent Posts

Tingkatkan Kapasitas Kepemimpinan, Wakil Ketua I DPRD Natuna Ikuti Retreat Nasional di Akmil Magelang

Ariranews.com, Natuna – Dalam upaya meningkatkan kapasitas kepemimpinan, Wakil Ketua I DPRD Kabupaten Natuna, Daeng…

3 jam ago

Uji Repeater di Gunung Ranai, SAR Natuna Perkuat Sistem Komunikasi Operasi

Ariranews.com, Natuna – Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Natuna melakukan uji fungsi repeater di Gunung…

5 jam ago

Dampak Domino Kenaikan BBM, ALFI Batam: Ongkos Transportasi Naik 100 Persen, Harga Sembako Batam Terancam Melonjak

AriraNews.com, Batam - Harga bahan pokok di Batam terancam melonjak tajam menyusul kenaikan signifikan harga…

1 hari ago

Pembangunan Rumah Wakaf Qur’an BWI Batam Dimulai

AriraNews.com, Batam - Di bawah hangatnya sinar matahari pagi, langkah awal pembangunan Rumah Wakaf Qur’an…

2 hari ago

PLN Batam dan DayOne Wujudkan Data Center Terbesar di Indonesia

AriraNews.com, Batam – PT PLN Batam bersama DayOne melaksanakan penandatanganan Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik…

2 hari ago

Dukungan Penuh BP Batam, DayOne Bangun Data Center Kedua, PLN Batam Siap Bangun PLTS Kapasitas 200 MWP

AriraNews.com, Batam - Batam terus mempertegas posisinya sebagai destinasi utama investasi digital di Asia Tenggara.…

2 hari ago