AriraNews.com, Batam – Kepala Perwakilan BI Kepri, Rony Widijarto memaparkan perkembangan terkini perekonomian daerah, capaian 2025, hingga prospek 2026 di tengah dinamika global yang masih bergejolak dalam kegiatan Bincang Bareng Media yang digelar Bank Indonesia Perwakilan Kepulauan Riau pada Selasa (3/3/2026).
Rony menyampaikan, perekonomian Kepulauan Riau sepanjang 2025 mencatat pertumbuhan sebesar 6,94 persen, menjadi yang tertinggi dalam 10 tahun terakhir dan jauh melampaui rata-rata nasional. Capaian tersebut dinilai sebagai hasil dari struktur ekonomi Kepri yang kuat, terutama ditopang oleh industri pengolahan, pertambangan, dan konstruksi.
“Industri pengolahan selalu konsisten menjadi sumber utama pertumbuhan. Ini menunjukkan fondasi ekonomi Kepri cukup solid,” ujarnya.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi daerah sangat berkaitan erat dengan konsumsi masyarakat. Pertumbuhan yang tinggi akan semakin optimal apabila disertai konsumsi yang kuat dan merata. Karena itu, BI Kepri mendorong agar pertumbuhan tidak hanya tinggi secara angka, tetapi juga inklusif.
“Pertumbuhan inklusif akan tercermin dari konsumsi masyarakat yang cukup tinggi dan meningkatnya pendapatan (income) yang diterima penduduk,” jelasnya.
Namun demikian, ia mengakui Kepri memiliki tantangan tersendiri, terutama dalam menjaga akselerasi pertumbuhan yang sudah berada pada level tinggi. Karakteristik ekonomi daerah yang banyak didorong oleh ekspor serta kepemilikan asing, khususnya di Batam, membuat stabilitas eksternal sangat berpengaruh.
Peran sentral Batam, kata Rony, tetap krusial sebagai motor utama ekonomi Kepri. Meski begitu, peluang untuk meningkatkan belanja masyarakat masih terbuka lebar guna memperkuat sumber pertumbuhan dari sisi domestik.
Dari sisi prospek 2026, BI Kepri memandang pertumbuhan ekonomi masih berpotensi berada pada level tinggi, meskipun tidak mudah untuk mencapainya. Tantangan muncul terutama apabila produksi sektor tambang tidak mengalami peningkatan signifikan.
“Kalau produksi tambang stagnan, maka target pertumbuhan yang sama akan sulit dicapai. Di sinilah pentingnya diversifikasi sumber pertumbuhan,” katanya.
Terkait inflasi, Rony memaparkan bahwa berdasarkan data Februari 2026, inflasi nasional tercatat sebesar 4,7 persen atau berada di atas batas sasaran. Sementara itu, inflasi Kepri mencapai 3,5 persen, yang juga berada di atas batas nasional. Faktor utama pendorong inflasi secara nasional adalah komponen tarif listrik.
BI Kepri menegaskan komitmennya menjaga stabilitas harga, terutama menjelang hari-hari besar keagamaan ketika permintaan masyarakat meningkat. Langkah pengendalian inflasi akan terus diperkuat melalui koordinasi dengan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan.
Hasil Survei Konsumen Triwulan I 2026 menunjukkan optimisme masyarakat tetap terjaga. Kondisi usaha dan konsumsi dinilai bergerak sejalan, dengan pertumbuhan triwulanan yang masih tinggi. Meski demikian, Rony mengingatkan bahwa gejolak global tetap menjadi faktor penentu arah ekonomi ke depan.
Dalam kesempatan itu, BI Kepri juga mengumumkan rencana penyelenggaraan event Kurma (Kepulauan Riau Ramadhan Fair) 2026 yang akan digelar di dua kota, Batam dan Tanjungpinang. Kurma sebuah kegiatan kolaboratif untuk mendorong integrasi ekonomi dan keuangan syariah sekaligus memperkuat peran UMKM. Kegiatan tersebut diharapkan menjadi wadah menyatukan ekosistem ekonomi inklusif, sekaligus memperluas akses pembiayaan dan pasar bagi pelaku UMKM.
“UMKM harus terus didorong tumbuh. Kurma Kepri adalah upaya bersama untuk menyatukan ekonomi keuangan syariah, ekonomi inklusif, dan penguatan UMKM,” tutupnya. (emr)








